Kelompok Tani Kecamatan Gabuswetan Kembangkan Teknologi Salibu

Gabuswetan, Pada bulan ini, petani di sejumlah daerah di Kecamatan Gabuswetan, dan wilayah sekitarnya telah menyelesaikan panen raya masa tanam pertama (MT 1). Mereka pun bersiap mempersiapkan lahan untuk tanaman musim kedua (MT 2).

Bapak Camat Gabuswetan, Masroni, M.Si., dengan didampingi Bapak Sekmat Gabuswetan, Sulardi, SP., beserta Bapak Carma, Ketua Kelompok Tani Blok Welut Desa Gabuskulon, Bapak Ir. Abdul Rohman selaku Praktisi Pertanian, dan Bapak Asep pemilik sawah meninjau langsung salah satu sawah yang akan menerapkan teknik penanaman salibu. Lokasi yang ditunjau berada di sawah Blok Welut Desa Gabuskulon milik Bapak Asep dan di Blok Rong Desa Sekarmulya milik Bapak Ahmad Afandi.

Beragam metode tanam digunakan untuk memacu agar hasil panen padi melimpah. Mulai tanam teknis tradisional, jejer legowo, hingga teknik The System of Rice Intensifications (SRI).

Masa tanam kedua, petani di kawasan sawah tadah hujan atau marginal, berhadapan dengan minimnya sumber pengairan. Mereka pun beradu cepat dengan kemarau yang biasanya tiba pada akhir Juni atau Juli.

Harapannya, saat kemarau tiba, tanaman padi telah berbuah atau setidaknya telah dewasa, sehingga relatif resisten terhadap cekaman kekeringan. Sayangnya, sering kali hasil panen padi jauh dari yang diharapkan.

Sebab itu, petani tadah hujan pun memilih varietas padi jenis cere atau hibrida yang berumur pendek dan dipadukan teknik tanam tertentu. Terutama agar tanaman padi mereka tetap menghasilkan panen melimpah pada musim kemarau.

Untuk meningkatkan pendapatan petani di kawasan tadah hujan, Kelompok Tani Kecamatan Gabuswetan mencoba untuk mengembangkan teknologi Salibu, yakni teknik tanam yang memungkinkan petani panen padi setidaknya dua kali dengan hanya tanam padi sekali.

Pada teknik ini, petani memanfaatkan tunas yang keluar dari bonggol tanaman padi yang telah dipanen. Untuk memastikan tunas tumbuh dengan baik, bonggol padi harus dikeperas nyaris rata dengan tanah, menyisakan sekitar 5 centimeter bonggol padi.

Dari bonggol itu, tunas baru akan beregenerasi dan dimanfaatkan sebagai tanaman baru, tanpa pengolahan lahan lagi. Dengan teknik ini, masa pengolahan lahan dan penyemaian benih dapat dipangkas hingga 1,5 bulan, dengan hasil panen nyaris menyamai hasil panen dengan menggunakan benih baru.

Teknik salibu ini dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, dan sudah berhasil diterapkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Produksi padi dilakukan dengan menumbuhkan kembali tunas rumpun padi yang sebelumnya dibudidayakan secara intensif dengan melibatkan pupuk hayati, biodekomposer, pengendaliah hama dan penyakit terpadu.

Ir. Abdul Rohman menjelaskan “Hasil panen dengan teknik salibu ini dapat diperoleh tanpa petani perlu melakukan pengolahan lahan, persemaian, dan pindah tanam yang membutuhkan banyak waktu, biaya, dan tenaga kerja sebagaimana umumnya bercocok tanam padi. Bahkan dengan tehnik Salibu ini bisa panen 2, 3 bahkan 4 kali.”